Thursday, March 12, 2015

Honeymoon Cherly hahahahaha

Tanggal 10 februari merupakan hari perpisahan ku dengan penjaga imigrasi bendara Soekarno Hatta. Di hari sebelum itu,  Jakarta diguyur hujan lebat, sampe2 Jalan tol menuju Cilincing terendam banjir, ndag bisa dilalui mobil. Duh-duh, bakal goyang nih pesawat "fikirku dalam otak. Saatnya tiba, menunggu pesawat GA-878 rute Cingkareng-Incheon, sambil bercengkerama dengan seorang yang baik hatinya, yang merupakan Pekerja Mesin di Korea asal Lampung, dia sudah 3 tahun di korea, selama 3 thaun di korea dia sudah 2 kali pulkam ke lampung. Yang pertama pada tahun kedua, kepulangannya ini membawa misi untuk melepaskan tittle jomblo- eh, maaf single maksud saya- yang telah disamatkan didadanya. Yang kedua pada akhir tahun ketiga, untuk birrul walidain-read; berbakti kepada orang tuanya-, ya betul kawan, orang tuanya sedang sakit, sehingga dengan cekatan kawan yang baru ku kenal ini menengok orang tuanya. Selama diskusi tertutup ini, banyak cerita yang dikabarkan kepada ku, mulai dari kondisi cuaca, perilaku masyarakat korea, de el el.
Ting-tong, wah...udah ada panggilan dari loudspeaker. Yuk' ajak teman baru ku kenal ini menuju pintu masuk pesawat, ini nih pengalaman penerbangan inter yang pertama kalinya untukku.

Selama tidak kurang 7 jam diatas awan, sampai juga akhirnya di Incheon International Airport. Duh2, kok perasaan ku biasa2 aja yah, hahahaha. Sampai di pintu pelaporan imigrasi, baru keinget,, saya mau kemana ini, hahaha, saya kan bukan turis, akhirnya saya putuskan untuk membuka lembaran2 email, saya dapatkan alamat kampus dan nomer telfon Labmate (teman se- lab), akhirnya sudah diputuskan untuk menuju alamat itu dan menghubungi kontak tersebut. Sambil menunggu tas turun dari pesawat, teman yang baru ku kenal menghampiri saya, "mas mau kemana? udah ada nomer bisa dihubungi?, nanti saya yang hubungi". Duh2 ini, namanya sudah jatuh ketimpa tangga, eh salah, ketiban janda muda, sambil ku buka hp yang providernya TELKOMSEL-sinyal telkomsel ada loh, mungkin karena ada kerja sama dengan provider disini kali yak- ku kasih secara perlahan, lebay ah. Harapan ku sih, teman Labmate ku itu datang jemput, tapi diakhir pembicaraan itu, saya diharuskan ambil bus. Nah, disini lah mulainya.

Teman yang baru ku kenal ini, seperti guide tour gitu... mantap e mas bowo (y). Eh, kecoplosan nama, hehehe, ^-^ Bagaimana tidak selain dia mw nunjukin arah, ngantarin ampe terminal, dia rela nuker uang rupiah saya dengan uang won nya. Dia nunjukin sambil ngantarin ke terminal Incheon menggunakan taksi, waktu itu dia yang bayarin taksi 50 ribu won (sekitar 500 ribu rupiah klo ndag salah, soale 1 won sama dengan 10 rupiah), diperjalanan sambil dia cerita dengan supir taksi, ada bus yang melaju kencang disebelah kiri, supir taksi sambil entengnya berkata" itu loh bus ke daejon (daerah yang mw ku tuju)"... Cetarrrrrrr, hahahaha, ternyata ada bus yang langsung dari bandara menuju daerah yang aku tuju, hahahahaha, tak mengapalah, sambil jalan pagi menghirup udara dinginnya Incheon. Dari terminal Incheon, saya dilepas dengan say Good bye dari teman yang baru ku kenal lagi baik hati. Semoga sukses selalu mas bowo.

Perjalanan dari Incheon ke daejon cukup lama juga sih, cuma saya ndag hafal berapa jam, soalnya saya orangnnya jarang memakai jam tangan, mungkin ini bawaan dari saya Madrasah Tsanawiyyah (oh, iya madrasah tsnawiyah itu setingkat SMP, #SaveMadrasah) hidup diasrama, yang diatur dengan jam waktu kumandan azan, pelajaran kelas kelar dengan azan zuhur, bangun sore dengan azan ashar, bangun pagi dengan azan subuh, hahahahahaha. Ini nih yang gw suka dari bis nya, ndag seperti bus tujuan jakarta, atau arah sebaliknya (hehehehe maf loh warga jakarta, tapi ane pernah ngalamin hal yang cukup akut di terminal di jakarta, katanya bis bagus, eh tahunya bus tahun 90 an). Waktu nunggu dan waktu keberangkatan pas dengan yang ada di tiketnya. Mantap lah !, 

Nah sambil ngantuk, kira2 diantara dua dunia, dunia sadar dan dunia mimpi. Bus berhenti, owalah, ternyata sudah sampai kawan. Turun-turun ke lembah subur,  ini kan maumu, hahahaha. Disini, ternyata ada wifi gratis, duh2 di tempat2 publik banyak disediakan wifi. Mantap bener negara 100 Mbps, eh, ndag tahu dingg. Sambil tak chat via friendstar, eh salah pace bok ke teman saya itu (mas bowo maksud saya) untuk menghubungi teman se lab saya, tujuannya sih, sudah bisa dijemput di daejon bus terminal, tahunya harus naik taksi, duh2.... Ini namanya masalah besar, hal ini karena dilatar belakangi waktu yang sesingkat-singkatnya hahaha loh malah ke proklamasi. Langkah ku berjalan keluar dari gedung terminal, guna mencari itab suci, yaelah..nyari taksi lah. Mohon dimaklumi, saya datang disini blom sama sekali tahu bahasa korea, sama sekali tidakk. Di pintu keluar, taksi telah berderet, saya coba dekati saah satu taksi tapi saya tidak digubrisnya, sambil nunjuk tempat/area. Dalam jantung kecil saya berdetak "orang ini bodoh ya, saya mau nyewa taksinya malah ndag mau". Sekali lagi, saya putar syaraf, apa mungkin saya yang ndag faham ya, akhirnya saya manut-mau- untuk ke arah yang ditunjuk supir tadi, baru ku sadari, bahwa ini bukan Indonesia, yang bisa seenaknya berhentiin bus di jalanan, markir seenak moyang lu. Ya, betul sekali, tempat ini adalah tempat naikin penumpang taksi khusus terminal. Koplak, koplak, wong deso sooo, dikira ojek bang juki apa.

Ini nih, hari pertama kedatang di korea, terasa setiap sudutnya kayak surga, seakan lagi honeymoon bareng istri, apa istri?, emang sudah punya? Iya, betul sekali, seperti bulan syrup Marjan. Sambil supir taksi membawa mobilnya ke tempat tujuan, ku nikmati pemandangn kota ini. Bagus juga ini kota, lebih tertata dari pada jakarte (hehehe, maf loh jakarte, mungkin ini pembalasan karena sering bullying BEKASI ya). Akhirnya, sampai juga di kampus, gedung E 10-2. Ada seorang laki2 ngempal dan kekar, itu adalah teman lab (dari tadi bicara lab, belum ngasih defini e, lab itu singkatan Laboratorium gitu, nanti dicari defini lengkap e di Kamus Besar Indonesia, karya Tatang Sutarna). Dari dia, dapat informasi saya akan tinggal di mess, wuih mantap nih. Koper berpindah dari bagasi taksi ke mobil teman ngempal ini, sbut saja namanya bombim. Tidak butuh berapa lama mobilnya melaju keluar dari kota ini, menuruni lembah, melewati sungai, ke samudra, bersama teman bertualang, hahahahaha (delete aja kata samudranya). Wuih, mantap juga nih jalan, baru ku sadari, sebenenarnya bia dari tadi sih sadari waktu naik bus dari incheon ke daejon, tapi rasa kantuk ku ndag bisa diskak matt. Iya, betul kawan jalan Hi Pass/Hi Toll/Express way apalah namanya, membelah gunung-gunung, menjebol (dibuat kayak gua gitu) gunung, dan tidak pakai naik turun gunung, tiang2nya tinggi persis kayak flyover bengkok di depan Tanjung Priok Jakarta yang tinggi itu loh guys, cuma disini lurus, ndag bengkok kayak di Priok. Duh2, pada gila ya orang korea gunung yang banyak dirusak, ya, walaupun ada tujuan utama, iya betul sekali,alasa save time itu.

Satu jam perjalanan dari daejon, sampai juga di daerah Cheongyang, desa yang asri, basis masyarakat e pertanian kayaknya. Ternyata disini lah saya akan berdomisili. Hah, jauh dari kesan Daejon nya,, hahahaha, etssss salah sangka ini kayak suasana kampung saya di indonesia, semoga saya bisa betah tinggal disini.
 

No comments:

Post a Comment