Ya, bener..tidak tahu mengapa saya yang sudah tinggal diasrama (semasa SMP dan SMA) pisah dari orang tua, d Sitambah kuliah beda pulau, tapi tidak pernah ngerasa homesick.. Duh2 ini sakit apa ya, selalu pengen pulang, pulang, rumah tunggu aku. Google ku minta bantuan untuk melihat ini efek dari pola faktorial 2x2 ato pola searah, dan dapat dilanjutkan uji perbandingan rata-rata, loh kok ke statistik. Tanda tanya besar, selalu ada diotakku "Apa yang aku lakukan disini?" seakan-akan aku disini tidak ada, makhluk yang abstrak.
Ya, bener sekali, setelah fase Honeymoon cherly, tiba fase down, waktu dimana berjalan lambat, 1 jam terasa setahun, 1 detik terasa berapa hayo?, Iya, betul sekali, terasa tidak nyaman. Mungkin pada fase honeymoon feses kambing atapun eksreta ayam disangka coklat, tapi pada fase ini, program integral berlaku, loh kok ke matematika. Iya betul kawan, berbandanding terbalik. Kalau naik bus di fase honeymoon terasa kayak mobil sendiri, ini naik mobil (mobilnya kawan sih) kemana-mana terasa kayak naik KOPAJA jurusan Cilingcing.
Ditambah kondisi finansial yang menipis, klo kayak gini ingat Video Sudjiwo Tedjo "Bahwa Masyarakat Indonesia sungguh dinyamankan dengan kondisi negaranya" Betapa tidak, jikalau saya tersesat dan tidak tahu jalan pulang, saya tidak mungkin bermalam di jalan ato depan toko kyak di indonesia (misal; saya ndag bawa uang untuk bisa nginap di hotel), bisa-bisa saya mati menggigil kedinginan, walaupun penghujun winter menuju spring, tidak sedingin salju, tapi pada fase pengalihan musim ini, tertiup angin kencang, katanya untuk memecah sunyi pelajar yang sedang galau karena data peneitian, hahahahaha, konon karena musim yang lain cemburu karena pada saat spring tanman bunga akan segera bermekaran.
Iya, kondisi ini yang membuat ndag nyaman hati ku untuk tumbuh di musim spring ini. Pulang, pulang adalah kata yang terus berulang di otakku, wlaupun kaset tape recorder telah putus nyambung diputar di syaraf ku. Fase ini sungguh sulit kawan,,, ku mencoba cari solusi dari kawan dan kerabat, maka ada masukan2 yang membangun supaya saya memupuk semangat kembali, mengingat kembali tujuan pertama saya datang di korea, membanyangkang bagaimana salah satu seorang kerabat yang juga pernah tinggal di korea selama 3 tahun dengan meninggalkan kedua anak dan suaminya di indonesia (suatu kondisi yang lebih pelik dan runyam dibandingkan kondisi ku saat ini).
Sungguh aku telah diwasiatkan untuk mengamalkan Ayat Seribu Dinar untuk mempermudah rahmah dari tuhan, ditambah zikir yang lain, klo kata iklan pertamina, disaat tidak ada lagi pundak untuk bersandar, maka masih ada sajadah ntuk bersujud,,, ato kata anak di film 99 Cahaya di Eropa (eh, betul ndag yah judulnya, karya Hanum Binti Amien Rais) bahwa "katakan kepada masalah, bahwa sebesar apapun masalah mu, sungguh aku punya tuhan yang LEBIH Besar".
No comments:
Post a Comment